Ayahku Kembali dan Pergi (untuk selamanya)
Bulan Februari 1959, Ayahku (Sappo) tiba di Totting setelah menempuh perjalanan dari Makassar melalui Kota Palopo.
Ibu, Aku dan Saudara saudaraku beserta seluruh keluarga besar kami sangat berbahagia menyambut kedatangan Ayahku yang pulang dalam keadaan segar bugar sembuh dari penyakitnya setelah berobat di Rumah Sakit Dadi Makassar.
Namun kebahagiaan kami tersebut hanya sesaat saja. Hanya sekitar tiga minggu dan rasa rindu pun belum lepas sepenuhnya bersama kami, Ayahku ditangkap Polisi DI/TII untuk dipenjara di Bajo dan dieksekusi pada hari Sabtu tarikh 01 Dzulqaidah 1378 Hijriah bertepatan dengan 09 Mei 1959 Masehi.
Kami belum mendapat berita tentang kematian Ayahku sehari setelah eksekusi Beliau (semoga ALLAH Swt merahmati Ayahku).
Ahad 10 Mei 1959 Masehi, Saya berangkat dari Totting ke Bajo di pagi buta dengan niat mengantarkan makanan untuk Ayahku. Ibu (Watiha) menitipkanku yang saat itu baru berusia 10 tahun kepada Uwa' Kuti Ambe Tika dan Hajji yang juga akan ke Bajo menjenguk Ayahnya bernama Tangeng Ambe Badaru yang juga menjadi tahanan di Bajo sedangkan Mallawi akan menjenguk Ibu mertuanya.
Tiba di Jambu kami berempat berpapasan dengan seseorang yang menyampaikan kabar kepadaku bahwa kemarin Ayahku telah dieksekusi mati.
Dengan perasaan yang tak karuan dan mencoba untuk tetap tegar dan bersabar, Saya tetap melanjutkan perjalanan ke Bajo menuju rumah Abdul Karim Akbar Molang.
Di rumah tersebut Saya berjumpa dengan kakak sepupuku Hadima yang datang menjenguk suaminya bernama Mandung yang ditahan dipenjara Bajo.
Makanan yang sedianya akan kuberikan ke Ayahku, akhirnya kutitip kepada Hadima agar diberikan kepada kaka sepupuku Abdul Rauf yang juga sedang ditahan di penjara.
Sarung dan pakaian peninggalan Ayahku diserahkan seseorang kepadaku. Setelah semua keperluan dan maksud kami terlaksana, kami pun berangkat pulang menuju Totting dan tiba di Totting menjelang maghrib.
Peristiwa menjelang eksekusi mati Ayahku diceritakan oleh Kakekku Tangeng Ambe Badaru kepadaku namun Aku tidak sanggup menceritakan peristiwa itu kepada Ibu dan adik-adikku.
Setelah 44 tahun, tepatnya pada hari Kamis tarikh 3 Syawal 1424 Hijriah (27 November 2003 Masehi) kami memindahkan kerangka jenazah Ayahku (Sappo) dari pekuburan Bajo ke pekuburan Pattedong. Kini makam Ayahku berdampingan dengan makam Ibuku (Hj Watiha) yang wafat pada hari Senin tarikh 22 Dzulhijjah 1431 Hijriah (29 November 2010).