Dalam sebuah momen, tiga sahabat berkumpul dan mendiskusikan keutamaan amalan setelah fathu Mekah. Diskusi mereka begitu mendalam dan penuh hikmah, mengungkapkan berbagai perspektif tentang cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Diskusi Tiga Sahabat
Sahabat pertama berkata, "Saya akan memakmurkan Masjidil Haram dengan beritikaf, berdzikir, dan beribadah sebanyak-banyaknya di sana. Ini karena satu amalan di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali dibandingkan amalan di masjid-masjid lain di muka bumi."
Sahabat kedua memiliki pandangan berbeda, "Setelah futuh Mekah, saya akan menjadi ahli khidmat bagi jamaah di Masjidil Haram, terutama jamaah haji. Dengan begitu, seluruh pahala orang yang beribadah dan berhaji akan mengalir kepada saya. Maka, saya akan habiskan waktu saya untuk berkhidmat di Masjidil Haram."
Sahabat ketiga mengungkapkan pandangannya dengan tegas, "Saya akan terus berjihad di jalan Allah, memperjuangkan agama Allah hingga maut menjemput."
Solusi dari Rasulullah SAW
Perdebatan mereka semakin sengit hingga akhirnya mereka memutuskan untuk meminta pendapat Umar bin Khattab RA. Namun, Umar RA pun merasa bingung dan tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Akhirnya, masalah tersebut dibawa kepada Nabi Muhammad ﷺ SAW. Nabi juga tidak langsung memberikan jawaban hingga turunlah wahyu dari Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 19-20:
"Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan yang mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidaklah sama di sisi Allah. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (QS. At-Taubah: 19-20)
Ketika seorang sahabat bertanya tentang perbandingan orang yang keluar di jalan Allah dengan yang tidak, Nabi Muhammad SAW menjawab bahwa orang yang berjihad di jalan Allah memiliki pahala yang tidak dapat ditandingi oleh amalan-amalan lainnya, meskipun seseorang berpuasa setiap hari, shalat setiap hari, dan membaca Quran setiap saat.
Keutamaan Jihad di Jalan Allah
Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya jihad di jalan Allah melalui berbagai sabdanya. Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal RA, Nabi bersabda:
"أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ الله. قَالَ: رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ."
"Sukakah aku khabarkan kepada engkau kepala segala urusan, tiangnya, dan puncak ketinggiannya?" Saya (Muadz) berkata, "Pastilah wahai Rasulullah!" Jawab Rasulullah, "Kepala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak ketinggiannya adalah jihad." (Sahih Sunan al-Tirmizi – no: 2616)
Jihad di jalan Allah adalah amalan yang tertinggi martabatnya dalam Islam. Orang-orang yang berjihad dijanjikan surga, pengampunan dosa, dan kemenangan di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 15:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hujurat: 15)
Pengorbanan dan Ganjaran
Keutamaan jihad di jalan Allah juga diungkapkan dalam sabda-sabda Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan betapa besar pahala dan keberkahan yang didapatkan. Nabi bersabda:
"إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ ؛ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ."
"Sesungguhnya di dalam surga ada seratus derajat, Allah menjanjikannya bagi orang yang berjihad di jalan Allah. Jaraknya di antara dua derajat itu seperti langit dan bumi." (HR Bukhari – no: 2581)