Senin, 23 September 2024

HADITS PENTINGNYA FISABILILLAH

Setelah penaklukan Mekah, para sahabat Nabi Muhammad ﷺ SAW sering berdiskusi mengenai amalan apa yang paling utama dilakukan. 

Dalam sebuah momen, tiga sahabat berkumpul dan mendiskusikan keutamaan amalan setelah fathu Mekah. Diskusi mereka begitu mendalam dan penuh hikmah, mengungkapkan berbagai perspektif tentang cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Diskusi Tiga Sahabat
Sahabat pertama berkata, "Saya akan memakmurkan Masjidil Haram dengan beritikaf, berdzikir, dan beribadah sebanyak-banyaknya di sana. Ini karena satu amalan di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali dibandingkan amalan di masjid-masjid lain di muka bumi."

Sahabat kedua memiliki pandangan berbeda, "Setelah futuh Mekah, saya akan menjadi ahli khidmat bagi jamaah di Masjidil Haram, terutama jamaah haji. Dengan begitu, seluruh pahala orang yang beribadah dan berhaji akan mengalir kepada saya. Maka, saya akan habiskan waktu saya untuk berkhidmat di Masjidil Haram."

Sahabat ketiga mengungkapkan pandangannya dengan tegas, "Saya akan terus berjihad di jalan Allah, memperjuangkan agama Allah hingga maut menjemput."

Solusi dari Rasulullah SAW
Perdebatan mereka semakin sengit hingga akhirnya mereka memutuskan untuk meminta pendapat Umar bin Khattab RA. Namun, Umar RA pun merasa bingung dan tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Akhirnya, masalah tersebut dibawa kepada Nabi Muhammad ﷺ SAW. Nabi juga tidak langsung memberikan jawaban hingga turunlah wahyu dari Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 19-20:

"Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan yang mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidaklah sama di sisi Allah. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (QS. At-Taubah: 19-20)

Ketika seorang sahabat bertanya tentang perbandingan orang yang keluar di jalan Allah dengan yang tidak, Nabi Muhammad SAW menjawab bahwa orang yang berjihad di jalan Allah memiliki pahala yang tidak dapat ditandingi oleh amalan-amalan lainnya, meskipun seseorang berpuasa setiap hari, shalat setiap hari, dan membaca Quran setiap saat.

Keutamaan Jihad di Jalan Allah
Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya jihad di jalan Allah melalui berbagai sabdanya. Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal RA, Nabi bersabda:

"أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ الله. قَالَ: رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ."

"Sukakah aku khabarkan kepada engkau kepala segala urusan, tiangnya, dan puncak ketinggiannya?" Saya (Muadz) berkata, "Pastilah wahai Rasulullah!" Jawab Rasulullah, "Kepala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak ketinggiannya adalah jihad." (Sahih Sunan al-Tirmizi – no: 2616)

Jihad di jalan Allah adalah amalan yang tertinggi martabatnya dalam Islam. Orang-orang yang berjihad dijanjikan surga, pengampunan dosa, dan kemenangan di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 15:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hujurat: 15)

Pengorbanan dan Ganjaran
Keutamaan jihad di jalan Allah juga diungkapkan dalam sabda-sabda Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan betapa besar pahala dan keberkahan yang didapatkan. Nabi bersabda:

"إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ ؛ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ."

"Sesungguhnya di dalam surga ada seratus derajat, Allah menjanjikannya bagi orang yang berjihad di jalan Allah. Jaraknya di antara dua derajat itu seperti langit dan bumi." (HR Bukhari – no: 2581)

ADAB TA'LIM WA TA'LUM

Ta’lim Wa Ta’lum adalah belajar dan mengajar.
Maksud dan tujuannya adalah memasukan Nur Kalamullah ( cahaya ilmu dan pemahaman ayat Al Quran ).
Keutamaan Ta’lim Wa Ta’lum :
1. Mendapatkan sakinah / ketenangan jiwa.
2. Dicucuri rahmat oleh Allah Swt.
3. Dikelilingi para malaikat bershaf-shaf sampai ke Arsy Allah Swt.
4. Nama kita dibangga-banggakan oleh Allah Swt di hadapan majelis para malaikat.
5. Menghancurkan 100 majelis lalai bila dilakukan di rumah.

Dalam sebuah hadist disebutkan :
Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah SAW. Bersabda, "Tidak berkumpul suatu kaum dalam satu rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah, saling mengajarkannya sesama mereka, kecuali diturunkan kepada mereka sakinah, rahmat menyirami mereka, para malaikat akan mengerummuni mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di kalangan malaikat yang ada di sisi-Nya." (Muslim, Abu Dawud)

Kerugian apabila tidak dilaksanakan Ta’lim Wa Ta’lum :
Beramal dengan mengikuti hawa nafsu.
Tidak mengetahui nilai akhirat.
Syetan akan berdakwah dalam rumah kita sehingga maksiat akan merajalela.

Adab-adab Ta’lim terbagi menjadi dua, yaitu :
Adab Zhahiriyah.
Adab Batiniyah.
1. Adab Zhahiriyah, diantaranya :
Berwudhu lalu duduk rapat-rapat dengan posisi iftirasy menghadap qiblat dengan tawajjuh kepada Allah Swt dengan memakai wangi-wangian.
Membaca dengan jelas dan teratur bila perlu diulangi sampai tiga kali dan tidak menambah dengan kata-kata sendiri. Bacalah apa yang tertulis dalam kitab. Bila belum mampu membaca dengan betul ayat-ayat Al-Quran atau Hadist-Hadist Rasulullah Saw, cukup membaca artinya atau Mafhum hadistnya saja.
Apabila disebut nama dari Rasulullah Saw, disunnahkan bershalawat, apabila nama sahabat r.a disebut ucapkanlah “radiyallahu anhum” dan apabila disebut nama orang-orang yang dilaknat maka ucapkanlah “laknatullah alaih”.
Bila mendengar kabar gembira tentang pahala dan surga ucapkanlah tasbih, tahmid, dan takbir. Semoga Allah Swt menganugerahkan kepada diri kita.
Bila mendengar tentang azab dan siksaan kita memohon perlindungan dari Allh Swt dengan beristigfar atau mengucapkan “na udzubillaahi min dzalik”.
Tidak meninggalkan majelis sebelum selesai setan berusaha bagaimana kita berhajat keluar padahal pada saat itu Allah Swt akan menganugrahkan hidayah, jika terpaksa meninggalkan majelis cukup menggunakan isyarat mengangkat telunjuk untuk berwudhu atau buang air kecil, dua jari untuk buang air besar dan mengangkat lima jari untuk keperluan khusus dan tidak akan kembali lagi pada majelis.
Buat jaulah ta’lim agar pikir manusia di luar masjid bisa berubah.

2. Adab Batiniyah, diantaranya :
Ta’zhim Wal Ihtiram : Mengagungkan dan memuliakan.
Tashdiq Wal Yaqin : Membenarkan dan meyakini.
Ta’atsur Fil Qalbi : Berkesan di dalam hati.
Niyatul Amal Wa Tabligh : Niat mengamalkan dan menyampaikan.

 Pada akhir taklim para mustami' diajak untuk mengamalkan dan menyampaikan apa yang telah didengar kepada orang lain. Selanjutnya majelis ditutup dengan doa kifarah majelis:

"Maha Suci Engkau ya Allah, segala puji bagi Engkau, saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu."

Sejarah Kesesatan Wahabi

Sejarah perkembangan gerakan Wahabi di dunia Arab mempunyai asal muasal yang dikenal dengan gerakan Salafiah klasik yang dirintis oleh Ibnu ...