Rabu, 05 Maret 2025

Sejarah Kesesatan Wahabi

Sejarah perkembangan gerakan Wahabi di dunia Arab mempunyai asal muasal yang dikenal dengan gerakan Salafiah klasik yang dirintis oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah, sehingga dalam konteks sejarahnya salafisme yang awalnya murni keilmuan dan a-politis kemudian menjadi sebuah gerakan politis karena dipengaruhi oleh faham wahabisme yang dibangun oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab. 

Wahabisme merupakan isu yang senantiasa hangat untuk diperdebatkan dalam arena global sampai saat ini. Gerakan ini juga merupakan sempalan dari gerakan fundamentalisme Islam yang berada pada posisi Islam kanan atau Islam garis keras (radikalisme Islam).

Dalam sejarahnya, gerakan Wahabi berkembang di dunia Arab seperti Arab Saudi, Mesir, Iran, dan bahkan sampai ke Indonesia yang masyarakatnya majemuk dan mayoritas Islam.

Sejalan dengan gerakan-gerakan Islam lokal atau nasional di Indonesia, gerakan Wahabi mempunyai pengaruh besar terhadap persoalan sosial keagamaan,ekonomi, dan bahkan politik yang ada Indonesia.

Kasus ini sangat menarik untuk dikaji terkait dengan sejarah gerakan Wahabi di dunia Arab dan sejarah penyebarannya ke Indonesia terutama respon ormas-ormas Islam Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU),Muhammadiyah, Haizbut Tahrir Indonesia (HTI), al-Irsyad dan seterusnya yang begitu menantang bagi penulis untuk mengkaji lebih dalam.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Sosio-Historis,sedangkan teori yang digunakan adalah teori evolusi dan teori Challenge and Response.

Teori evolusi merupakan suatu teori yang berkembang bermula dari tingkat sederhana yang selalu berkembang di masyarakat, challenge merupakan tantangan dari perkembangan sebuah Gerakan Wahabi, sedangkan response merupakan reaksi budaya dan pemikiran baru yang digunakan untuk menjawab sebuah persoalan dan tantangan yang ada.

Sebagai penunjang dari penelitian ini, penulis memakai metode pemikiran Karl Jaspers yang menyatakan bahwa suatu peristiwa (event) atau kejadian sejarah harus ditentukan oleh man (who)/siapa ?, time (when)/kapan;waktu ?, dan place (where) dimana;tempat, sehingga penelitian ini dapat menjadi sempurna sesuai dengan perangkat analisis yang ada.

Hasil dari penelitian ini berbentuk analisis sejarah tentang akar gerakan Wahabi di dunia Arab dan proses penyebarannya ke Indonesia melalui teori challenge and response yang merupakan akhir penelitian ini sebagai kontribusi pemikiran.

Pada bab IV merupakan hasil aplikasi dari teori evolusi dan teori Challenge and Response dengan menganalisis problem historis gerakan Wahabi, karena muncul ketegangan yang awal mulanya a-politis menjadi politis khususnya di Arab Saudi.

Masuknya ke Indonesia dimulai sejak terjadinya gerakan Paderi di Sumatra Barat,sedangkan problem historis gerakan Wahabi di Indonesia merupakan tantangan tersendiri hadirnya Wahabisme yang mengundang pro dan kontra, karena dapat mengancam kebudayaan Indonesia. 

Respon ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah yang juga menentang bid'ah dan khurafat, tetapi tidak terlalu ekstrim memahami al-Quran dan Sunnah, NU mendukung jargon kembali kepada al-Quran dan Sunnah, tetapi ia tetap mempertahankan tradisi, HTI cenderung lebih ekstrim dengan usaha mereka mendirikan khilafah Islamiyah di Indonesia begitu juga al-Irsyad, tetapi ia lebih pada misi-misi dakwah keislaman dan pendidikan.

Wahabi atau Wahabisme adalah suatu ajaran yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab sebagai bentuk reformasi ajaran Islam di Arab Saudi.

Adapun inti dari ajarannya adalah mengembalikan ajaran Islam hanya pada Alquran dan hadis.

Selain itu, gerakan ini juga memiliki misi utama membersihkan ajaran Islam dari praktik bidah, syirik, dan khurafat.

Namun, para penentang aliran Wahabi menyebutnya sebagai gerakan sekte Islam yang menyimpang karena serangkaian aksi kejam yang pernah dilakukan di masa lalu.

Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekah pada masanya di sekitar masa akhir kesultanan Utsmaniyyah, dalam kitab Târikh yang beliau tulis menyebutkan sebagai berikut:

“Pasal; Fitnah kaum Wahhabiyyah. Dia -Muhammad ibn Abdil Wahhab- pada permulaannya adalah seorang penunut ilmu di wilayah Madinah. Ayahnya adalah salah seorang ahli ilmu, demikian pula saudaranya; Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab. Ayahnya, yaitu Syekh Abdul Wahhab dan saudaranya Syekh Sulaiman, serta banyak dari guru-gurunya mempunyai firasat bahwa Muhammad ibn Abdil Wahhab ini akan membawa kesesatan. Hal ini karena mereka melihat dari banyak perkataan dan perilaku serta penyelewengan-penyelewengan Muhammad ibn Abdil Wahhab itu sendiri dalam banyak permasalahan agama. Mereka semua mengingatkan banyak orang untuk mewaspadainya dan menghindarinya. Di kemudian hari ternyata Allah menentukan apa yang telah menjadi firasat mereka terjadi pada diri Muhammad ibn Abdil Wahhab. Ia telah banyak membawa ajaran sesat hingga menyesatkan orang-orang yang bodoh. Ajaran-ajarannya tersebut banyak yang berseberangan dengan para ulama agama ini. bahkan dengan ajarannya itu ia telah mengkafirkan orang-orang Islam sendiri. Ia mengatakan bahwa ziarah ke makam Rasulullah, tawassul dengannya, atau tawassul dengan para nabi lainnya atau para wali Allah dan orang-orang, serta menziarahi kubur mereka untuk tujuan mencari berkah adalah perbuatan syirik. Menurutnya bahwa memanggil nama Nabi ketika bertawassul adalah perbuatan syirik. Demikian pula memanggil nabi-nabi lainnya, atau memanggil para wali Allah dan orang-orang saleh untuk tujuan tawassul dengan mereka adalah perbuatan syirik. Ia juga meyakini bahwa menyandarkan sesuatu kepada selain Allah, walaupun dengan cara majâzi (metapor) adalah perbuatan syirik, seperti bila seseorang berkata: “Obat ini memberikan manfa’at kepadaku” atau “Wali Allah si fulan memberikan manfaat apa bila bertawassul dengannya”. Dalam menyebarkan ajarannya ini, Muhammad ibn Abdil Wahhab mengambil beberapa dalil yang sama sekali tidak menguatkannya. Ia banyak memoles ungkapan-ungkapan seruannya dengan kata-kata yang menggiurkan dan muslihat hingga banyak diikuti oleh orang-orang awam. Dalam hal ini Muhammad ibn Abdil Wahhab telah menulis beberapa risalah untuk mengelabui orang-orang awam, hingga banyak dari orang-orang awam tersebut yang kemudian mengkafirkan orang-orang Islam dari para ahli tauhid” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 66).

Munculnya gerakan Wahabi
Gerakan Wahabi muncul di Arab Saudi pada pertengahan abad ke-18 dari dakwah Muhammad bin Abdul Wahab.

Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang teolog Muslim yang lahir pada 1703 di Nadj, sisi timur Arab Saudi.

Dalam pengembaraannya ke berbagai daerah untuk menuntut ilmu, Muhammad bin Abdul Wahab menemukan banyak terjadi penyimpangan ajaran Islam.

Penyimpangan tersebut di antaranya berupa praktik bidah, syirik, dan khurafat. Bidah adalah mengadakan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam Islam, dibentuk sendiri oleh manusia atau budaya di sekitarnya. 

Alhasil, Muhammad bin Abdul Wahab mencetuskan pemikiran reformasi Islam, yang kemudian menjadi sebuah gerakan.

Wahabi dianggap sebagai gerakan yang ultra-konservatif, keras, dan berusaha mempertahankan ajaran Islam yang mutlak berdasarkan Alquran dan hadis.

Para penganut paham Wahabi menamakan dirinya sebagai kelompok Muwahiddun, yang berarti pendukung ajaran yang memurnikan Allah SWT.

Ajaran Wahabi

Muhammad bin Abdul Wahab tergolong ulama yang produktif dan tercatat telah menulis beberapa karya ilmiah.

Keseluruhan karyanya membahas mengenai pemurnian ajaran Islam. Dalam ajarannya, Muhammad bin Abdul Wahab memfokuskan pada beberapa hal, seperti berikut.
- Menyembah hanya kepada Tuhan, selain itu musyrik
- Mengembalikan orang Islam dari kepercayaan kepada Syeikh, Wali atau kekuataan gaib kepada ajaran Tauhid
- Menyebut nama Nabi, Syekh atau malaikat dalam doa termasuk musyrik
- Meminta syafaat kepada selain Tuhan juga termasuk musyrik
- Bernadzar selain kepada Tuhan termasuk menyekutukan Tuhan
- Memperoleh pengetahuan selain dari Alquran dan sunah merupakan kekufuran atau paham yang berbeda dengan Islam

Dituding menyimpang dan sesat

Doktrin Wahabi yang sangat konservatif, keras, dan kaku dipicu oleh pemahaman keagamaan yang mengacu hsnya dari bunyi harfiah teks Alquran dan hadis.

Hal ini menjadikan Wahabi sangat menolak tradisi dan menganggap orang-orang yang tidak sepemahaman sebagai orang kafir dan murtad (keluar dari Islam).

Pada awalnya, Muhammad bin Abdul Wahab mulanya menyebarkan pemikirannya di Basrah, tetapi tidak diterima oleh masyarakat dan diusir karena dianggap sesat oleh sebagian ulama di sana.

Tidak hanya itu, bahkan Wahabi ditentang oleh ayah Muhammad bin Abdul Wahab sendiri, Abdul Wahab, dan saudaranya, Salman bin Abdul Wahhab.

Peran Muhammad bin Saud

Setelah diusir karena dituding sesat, Muhammad bin Abdul Wahab bertemu dengan Muhammad bin Saud, yang merupakan pemimpin Diriyah.

Muhammad bin Saud adalah seorang politikus, yang pada akhirnya mau membangun koalisi dengan Muhammad bin Abdul Wahab untuk mencapai kepentingan politiknya sendiri.

Muhammad bin Saud mau mendukung Wahabi, asalkan Muhammad bin Abdul Wahab tidak mengganggu kebiasaannya mengumpulkan upeti tahunan dari penduduk Diriyah.

Berkat dukungan dan lindungan Muhammad bin Saud, ajaran Wahabi semakin berkembang kuat dan gerakannya juga semakin kejam.

Pada 1773, Muhammad bin Abdul Wahab bersama para pengikutnya dapat menduduki Riyadh dan menyebarkan pemikirannya.

Oleh karena itu, para ahli sejarah beranggapan bahwa berkembangnya ajaran Wahabi tidak dapat dilepaskan dari berdirinya Kerajaan Arab Saudi, yang masih eksis hingga sekarang. 

Pasalnya, koalisi tersebut juga membuat pengaruh Muhammad bin Saud semakin kuat dan kemudian mendirikan negara Arab Saudi.

Kekejaman Wahabi

Setelah berkembang, para ahli Timur Tengah dan Afrika Utara semakin menentang ajaran Wahabi, bahkan sampai menyebutnya sebagai suatu kebodohan.

Pasalnya, Muhammad bin Abdul Wahab dan Muhammad bin Saud memerangi siapa pun yang berbeda pemahaman tauhid degan mereka.

Hal itu dilakukan karena predikat Muslim hanya merujuk pada pengikut Wahabi, sedangkan semua orang Islam di luar mereka dianggap kafir dan murtad.

Gerakan Wahabi pun melakukan keganasan di Kota Karbala pada 1802, dengan pembunuhan yang tidak mengenal batas perikemanusiaan.

Selain membunuh masyarakat sipil, termasuk anak-anak dan perempuan, tentara Wahabi juga membakar perpustakaan-perpustakaan Islam.

Di antara kasus pembakaran buku-buku yang paling fenomenal adalah pembakaran buku-buku yang terdapat di Perpustakaan Arab (Maktabah Arabiyah) di Mekkah.

Mereka membakar sekitar 60.000 buku-buku langka dan sekitar 40.000 masih berupa manuskrip yang sebagiannya adalah hasil dikte dari Nabi Muhammad kepada para sahabatnya, sebagian lagi dari Khulafaur Rasyidin, dan para sahabat Nabi yang lainnya.

Para pengikut Wahabi membakar semua buku, kecuali Alquran dan hadis saja. Sejak itu, penaklukan dengan jalan kekerasan terus dilakukan.

Wahabi adalah salah satu pemahaman yang didirkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Pemahaman ini dinisbahkan atas nama bapaknya Abdul Wahab kepada Wahabi, tidak kepada namanya sendiri yaitu Muhammad.

Ini terjadi karena kesepakatan ulama supaya umat Islam tidak keliru dengan pemahaman yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Muhammad bin Abdul Wahab adalah orang yang lemah ingatan dan gagap. Ayah dan kakaknya sendiri menganggap dia tidak waras. Muhammad bin Abdul Wahab sangat terpengaruh dengan ajaran Ibnu Taimiyah yang mempunyai pemahaman Mujassimah.

Kemudian dia mengembara dan belajar di Basrah. Berguru dengan Syaikh Muhammad Al-Majmui yaitu Mr. Hempher, orang Yahudi yang menyamar sebagai ulama. Dia adalah seorang yang pakar ahli Bahasa Arab, Turki, Parsi dan telah lama mempelajari Islam.

Mr. Hemher mengasuh Muhammad bin Abdul Wahab dengan hadiah Mut’ah dua orang agen perempuan Yahudi yang menyamar sebagai muslimah.

Maka dengan mudah Yahudi mengatur untuk mengajar Muhammad bin Abdul Wahab tentang pemahaman yang baru yang sesuai dengan rancangan Yahudi tersebut.

Dengan ajaran baru itu, Muhammad bin Abdul Wahab kembali ke kampung halamannya. Namun kedatangannya ditentang dan diusir oleh bapaknya sendiri yaitu seorang Ulama Suni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah).

Setelah diusir oleh bapaknya, Muhammad bin Abdul Wahab terus menyebarkan ajarannya itu ke seluruh Najd atau yang sekarang disebut dengan Arab Saudi.

Perjuangan yang disebarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab itu dipantau oleh Mr. Hempher dan didukung oleh Kerajaan Inggris. Muhammad bin Abdul Wahab membawa misi Yahudi kepada para pemimpin Arab.

Pada tahun 1747 M, Muhammad bin Abdul Wahab bertemu dengan Muhammad bin Sa’ud. Dia adalah keturunan Yahudi asli dan bergabunglah Muhammad bin Abdul Wahab dengan Muhammad bin Sa’ud untuk mengembangkan ajaran Wahabi tersebut.

Diantara ajaran-ajaran Wahabi adalah siapa yang tidak ikut Wahabi dianggap sesat, kafir, halal darah dan hartanya dirampas. Dengan fatwa Wahabi ini maka orang-orang yang tidak ikut dengan Wahabi akan dibunuh dan hartanya akan dirampas.

Kaum Wahabi sendiri melancarkan perang didalam dan diluar wilayah Arab Saudi (Najd) seperti Yaman, Hijjaz, daerah sekitar Syria dan Irak.

Mereka membantai 300 laki-laki di wilayah Kota Al-Ahsa dan merampas harta milik mereka. Pasukan Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab terus melakukan kekejaman diseluruh Arab.

Siapa saja yang tidak taat kepada ajarannya wajib berbai’at dan apabila melawan wajib dibunuh serta harta miliknya dirampas.

Diantara umat Islam yang paling banyak dibunuh oleh pasukan ini adalah keturunan Rasulullah SAW. Namun diantara keturunan Rasulullah SAW ada yang sempat melarikan diri ke Malaysia dan Indonesia.

Peninggalan Rasulullah SAW dimusnahkan supaya umat Islam tidak lagi mengagungkan dan memuliakan Rasulullah SAW dan keturunannya.

Pada tahun 1793 M Muhammad bin Abdul Wahab meninggal dunia. Namun ajaran Wahabi ini sendiri semakin berkembang dengan dukungan dan bantuan keluarga Muhammad bin Sa’ud, kerajaan Inggris dan Yahudi.

Dinasti As-Sa’ud dan golongan Wahabi terus meluaskan jajahannya hingga tahun 1912 M dan berhasil menguasai seluruh Najd (Arab Saudi).

Wahabi yang bekerja sama dengan Yahudi mencetuskan revolusi Arab untuk menjatuhkan Empayar Islam Utsmaniyah. Ketika pemimpin Empayar Utsmaniyah telah diserang oleh Penyakit Al-Wahan, agenda Yahudi sendiri adalah menggantikan pemerintahan para syarif Makkah yang bertindak sebagai penjaga Haromain.

Yahudi melantik satu agen Yahudi untuk masuk kedalam bangsa Arab. Agen ini adalah Sainstis yang menguasai 6 bahasa dunia termasuk Bahasa Arab. Yahudi melihat dan memilih siapakah tokoh bangsa Arab yang menginginkan kekuasaan.

Kemudian ditemukanlah tokoh Sherif Hussain, wakil Empayar Utsmaniyah di Haromain (Makkah dan Madinah). Yahudi berhasil menghasut dan menipu Sherif Hussain untuk membebaskan diri dari Empayar Islami Utsmaniyyah.

Yahudi sendiri menaburkan semangat nasionalisme untuk menentang Bangsa Turki dan pemimpin empayar Islami Utsmaniyyah.

Hubungan antara Yahudi dan Sherif Husain semakin sangat dekat bahkan menjadi kawan karib putranya yang bernama Amir Faisal. Amir Faisal ini sendiri berpaling dan memihak kepada Inggris, sejak itulah kerajaan Arab jadi Tali barut (ikatan) Inggris atas nasihat Yahudi yakni Sherif Hussain.

Kemudian Yahudi mengirim surat rahasia untuk memohon bantuan tentara Inggris dengan menjanjikan Sherif Hussain sebagai penguasa bagi seluruh wilayah Arab. Maka mudahlah bagi Yahudi mengatur keluarga ini untuk membagi-bagikan wilayah sesuai dengan perancangan Yahudi.

Pada tahun 1915 Inggris mulai menduduki kawasan Irak dan pada tahun 1917 M Inggris menduduki semua kawasan Palestina. Hingga satu tahun kedepan yaitu pada tahun 1918 M tentara inggris menduduki pusat pemerintahan Turki Utsmaniyyah yaitu Kota Istanbul.

Perjanjian Faisal dan Weizmann ditandatangani pada tanggal 3 Januari 1919 M pada persidangan di Paris. Weizmann sendiri adalah presiden Pertumbuhan Zionis di dunia.

Selepas perjanjian itu Weizmann menjadi Presiden pertama di negara Israel. Kemudian Irak diserahkan kepadaq Amir Faizal, Jerussalem atau Palestina diserahkan kepada Kristen. Baitul Maqdis sendiri diserahkan kepada Yahudi pada tahun 1922 M.

Setelah selesai Perang Dunia Ke-1, persidangan diadakan dan hasilnya persidangan pertama adalah sistem khalifah Islam dihilangkan, yang kedua adalah khalifah dibuang keluar negara, yang ketiga adalah harta khalifah dirampas dan yang keempat adalah kerajaan Turki baru didirikan atas dasar secular dibawah pimpinan Mustafa Khamar.

Negara-negara jajahan Turki Utsmaniyyah diambil alih sebagai jajahan Inggris, Prancis dan Italia.

Yahudi melantik Wahabi sebagai Penguasa Haromain (Makkah dan Madinah). Setelah jatuhnya Empayar Utsmaniyyah, negara-negara kecil seperti Kuwait, Yaman dan lainnya diserahkan kepada khabilah-khabilah yang dipilih sendiri oleh Yahudi.

Negara-negara kecil itu semua takluk kepada jajahan Inggris, Prancis dan Italia. Janji kepada Sherif Hussain untuk mengangkatnya sebagai penguasa seluruh Arab hanyalah janji kosong.

Sherif Hussain hanyalah mendapat kerajaan Jordania yang kecil dan miskin. Inilah balasan bagi seorang pengkhianat Islam.

Pada tahun 1925 M keluarga As-Sa’ud berhasil menguasai Kota Suci Makkah dari Sherif Hussain. Pada tanggal 10 Januari 1926, Abdul Aziz As-Sa’ud dinobatkan menjadi Raja Hijjaz di Masjidil Haram, Makkah.

Pada tahun 1932 M setelah menguasai sebagian besar semenanjung Arab, Ibnu Sa’ud mengganti nama tanah gabungan Hijjaz dan Najd menjadi Arab Saudi. Abdul Aziz Ibnu Sa’ud kemudian menobatkan dirinya sebagai Raja Arab Saudi dengan dukungan Pihak Kerajaan Inggris.

Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustam

Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustam atau Abdul Wahhab bin Rustam atau hanya Wahhab bin Rustam adalah imam kedua Imamah Tahert dan pendiri gerakan Wahbiyyah Ibadisme. Dia adalah bagian dari Dinasti Rustam yang memerintah teokrasi di tempat yang sekarang disebut Tunisia dan Aljazair. Ia menjadi penguasa setelah kematian ayahnya, Abdurrahman bin Rustam dan mendirikan gerakan keagamaan Islam eksternal yang disebut Wahbiyyah relatif terhadap namanya Abd al-Wahhab. Khotbah Ibadi Khawarijnya sering diasosiasikan dengan gerakan Wahhabiyah modern.

Abd al-Wahhab lahir pada tahun 747/748. Ayahnya adalah Abdurrahman bin Rustam pendiri Dinasti Rustamid dan ibunya adalah seorang Berber dari suku Bani Ifran . Dia mempelajari ide-ide Abu Ubayda Muslim ibn Abi Karima di bawah ayahnya, yang juga merupakan penyampai tradisi Ibadi. Ia menerima negara setelah kematian ayahnya pada tahun 788. Pada tahun 789, ia membiarkan Idris I merebut Tlemcen tanpa reaksi negatif. Dia meninggal, mungkin, pada tahun 823/824.


Referensi:
Ridwan, Nur Khalik. (2020). Sejarah Lengkap Wahabi. Yogyakarta

Sejarah Kesesatan Wahabi

Sejarah perkembangan gerakan Wahabi di dunia Arab mempunyai asal muasal yang dikenal dengan gerakan Salafiah klasik yang dirintis oleh Ibnu ...