Sabtu, 15 Juni 2024

"Kampung Pattedong Dahulu dan Sekarang" Biografi Historikal H.M. Djunaid Sappo (Chapter 15)

(Chapter 14) Pada bulan Oktober 1959 Letnan Kolonel Muhammad Jusuf diangkat menjadi Panglima KDMSST menggantikan Letnan Kolonel Andi Mattalatta.

Pattedong Kembali dibawah Penguasaan DI/TII (1958-1964)

Kabar rencana penarikan Pasukan TNI Divisi Brawijaya yang menjaga keamanan desa di wilayah Selatan Luwu mulai berhembus pada bulan April 1958.

Isu yang berhembus bahwa setelah Pasukan TNI Divisi Brawijaya ditarik ke Induk pasukan di Jawa Timur, Kampung Pattedong dan Kampung lainnya akan jatuh kembali dalam penguasaan DI/TII.

Akibat isu tersebut, maka dimulailah eksodus besar besaran penduduk di wilayah selatan Luwu diantaranya Suli, Cimpu, Belopa, Bajo, dan lainnya menuju Kota Palopo.

Para penduduk ada yang berjalan kaki bersama keluarga berikut bekal dan barang seadanya. Sebagian lagi menumpang truk serta ada yang menggunakan kapal sederhana (landing) dan perahu kecil.

Penduduk yang mengungsi melalui darat terlihat seperti keadaan para pengungsi Gaza yang terjadi saat ini di Palestina (2023-2024). Hanya saja penduduk Luwu saat itu tidak berada dalam ancaman bom dan roket saat melakukan perjalanan.

Pada awal bulan Agustus 1958, Pamanku Dg Tangim datang ke Pattedong dari Makassar menjemput Orang Tuanya untuk dibawa ke Makassar.

Keberangkatan Dg Tangim kembali menuju Makassar tidak hanya membawa kedua Orang Tuanya saja, namun juga turut serta membawa Timang bin Badaru, Badaru Toparai bersama keluarganya, Manganre bersama keluarga, Nurjannah Pakkaso, Mukhtar Pakkaso, Wasbir Djadang yang baru saja menyelesaikan sekolah di SR Pattedong, Amir Bambang, serta Ayahku Sappo yang saat itu dalam keadaan sakit juga ikut ke Makassar untuk berobat.

Kembali ke situasi dan keadaan Luwu saat itu, seluruh Pasukan TNI yang menjaga keamanan wilayah Luwu dan sebagian Wajo mulai dari Kera, Siwa, Larompong, Suli, Bajo, Cilallang hingga ke Bosak ditarik ke Induk Pasukannya. Dan akhirnya wilayah yang ditinggalkan oleh Pasukan TNI Divisi Brawijaya tersebut dikuasai oleh DI/TII Kahar Mudzakkar.

Pada bulan Agustus 1958 Pasukan TNI Divisi Brawijaya Bn 527 yang memiliki pos keamanan di Pattedong berangkat menuju Kota Palopo. Beberapa hari sebelum berangkat, mereka menghimbau kepada seluruh penduduk agar meninggalkan Kampung Pattedong menuju ke dalam hutan.

Maka dimulailah kembali gelombang pengungsian penduduk Pattedong masuk ke dalam hutan. Keluargaku tanpa disertai oleh Ayahku Sappo yang saat itu berobat di Makassar, mengungsi ke Kampong Baru - Takkalala yang berlokasi sekitar 1 kilometer sebelah barat jalan poros Belopa - Palopo.

Penduduk lainnya yang juga masih ada ikatan keluarga besar mengungsi ke Salukaliki, To'bia, dan pedalaman hutan Lanipa.

Disepanjang jalan poros Belopa - Palopo Kampung Pattedong dan Kampung disekitarnya menjadi sepi seperti kota mati ditinggalkan oleh penduduknya.

Sejarah Kesesatan Wahabi

Sejarah perkembangan gerakan Wahabi di dunia Arab mempunyai asal muasal yang dikenal dengan gerakan Salafiah klasik yang dirintis oleh Ibnu ...