Selasa, 16 Juli 2024

"Kampung Pattedong Dahulu dan Sekarang" Biografi Historikal H.M. Djunaid Sappo (Chapter 18)

(Chapter 17) Rencana semula DI/TII akan memukimkan kami di Padang Kamburi untuk dijauhkan dari Kampung halaman kami yaitu Pattedong.
Harta produktif seperti kebun kelapa, mesin jahit, alat cukur rambut, patang (jaring untuk menangkap udang) milik warga yang baru masuk hutan disita atas dasar kebijakan penguasa DI/TII dengan istilah "tinjauan dua tahun" yang berarti selama dua tahun harta sitaan tersebut dikuasai dan dinikmati hasilnya oleh penguasa DI/TII.


Demikian pula dengan pohon sagu dan sambe (alat pengolah sagu) disita. Sagu dan sambe (lara) yang seharusnya menjadi hak pemiliknya diambil oleh penguasa DI/TII selama dua tahun, setelah masa tersebut pohon sagu dan sambe dikembalikan kepada pemiliknya.

Rakyat KDT Ponrang dan KDT Bajo dikerahkan untuk melakukan sabotase selama beberapa bulan terhadap jalur transportasi dengan cara menghancurkan jalan utama/jalan poros dan jembatan guna menghambat jalur pergerakan TNI untuk memasuki wilayah wilayah yang telah dikuasai DI/TII.

Jembatan Pencobe, Jembatan Ponrang, dan Jembatan Cimpu dan jembatan jembatan lainnya dari Kera hingga Mario tak luput untuk dirubuhkan. Jalan raya terutama Jalan Poros Pattedong hingga Ponrang digali dan dihancurkan.

Jembatan konstruksi baja di Sungai Paremang yang dibangun Jepang, dirobohkan hingga hanyut dan tenggelam di sungai. Peristiwa ini disaksukan langsung oleh Abdul Kahar Mudzakkar.

Saat itu Kahar berpidato dihadapan semua orang yang turut serta dalam tindakan tersebut. Kahar berkata "perjuangan kita adalah perjuangan menegakkan kebenaran berdasarkan syariat Islam dan melawan kebathilan. Saya tidak akan mencelakakan Saudara saudara. Kalau sekiranya perjuangan kita ini bathil tidak diridhoi ALLAH Swt, maka Saya berjanji kepada kalian bahwa Saya bersedia menjadikan Saya sebagai kuda tunggangan dihari akhirat nanti". Kahar berkata sambil menitikkan air mata.

Jalan dan jembatan di Pattedong mengalami perombakan paling besar. Jalanan dirombak menjadi sungai yang mempertemukan dua sungai mulai dari Sungai (Salu) Kanang hingga Sungai (Salu) Noling Lama.

Bekas perombakan jalan di Pattedong masih terlihat sampai saat ini meskipun jalan yang dahulunya adalah sungai telah berubah menjadi jalan beraspal.

Bukti sejarah perombakan jalan di Pattedong juga masih terlihat hingga saat ini bahkan tanpa disadari inilah yang menjadi Konstruksi Jembatan unik di Kampung Pattedong. Orang mengenalnya dengan jembatan miring (diagonal /serong) yang terjadi akibat perombakan jalan menjadi sungai dan sebaliknya sungai menjadi jalan oleh DI/TII.

Rabu, 10 Juli 2024

Lukisan Gua Maros Sulawesi Selatan Tertua di Dunia Berusia 51.200 Tahun

Lukisan gua atau lukisan cadas di Leang Karampuang, Maros-Pangkep, Sulsel, terlacak berusia 51.200 tahun. Diduga kuat ini merupakan cerita bergambar tertua dunia.


Hal ini berdasarkan kolaborasi studi antara Griffith University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Southern Cross University. Hasil penelitian ini pun diterbitkan di jurnal Nature bertajuk 'Narrative cave art in Indonesia by 51,200 years ago'.

Adhi Agus Oktaviana, ahli seni cadas Indonesia dari BRIN yang memimpin penelitian ini, menyebut penemuan lukisan Leang Karampaung tersebut berimplikasi penting terkait pemahaman mengenai asal-usul seni paling awal.

"Hasil yang kami peroleh ini sangat mengejutkan karena belum ada karya seni dari zaman Es Eropa yang terkenal yang umurnya mendekati umur lukisan gua Sulawesi ini, walau ada pengecualian pada beberapa temuan kontroversial di Spanyol," ujarnya, dalam perilisan hasil temuan ini, di kantor BRIN, Jakarta, Kamis (4/7).

"Penemuan ini merupakan seni cadas pertama di Indonesia yang umurnya melampaui 50.000 tahun," lanjut dia, yang saat ini sedang menjalani program PhD di Griffith Centre for Social and Cultural Research (GCSCR).


Ia menuturkan lukisan cadas ini ada di gua kapur Leang Karampuang, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Bentuknya berupa tiga figur menyerupai manusia yang sedang berinteraksi dengan seekor babi hutan.

"Ada yang bilang ini mengungkap ide-ide spiritual. Tapi saya sih lihat logika saja, ini dua model perburuan," jelasnya.

Pada 2021, penelitian lain mengungkap lukisan gua bergambar babi hutan di gua Leang Tedongnge, Sulawesi, berusia 45.500 tahun.

Leang Tedongnge, Leang Karampuang, dan sejumlah lokasi gua lainnya terletak di Taman Prasejarah Leang-leang, Sulsel. Lokasi ini diduga peninggalan manusia modern zaman es.

Dari mana tahu lukisan ini berusia 51.200 tahun?

Tim peneliti memakai metode analisis mutakhir melalui ablasi laser U-series (LA-U-series) untuk mendapatkan pertanggalan akurat pada lapisan tipis kalsium karbonat yang terbentuk di atas seni hias tersebut.

Hasil analisis menunjukkan seni hias di bawah lapisan tersebut memiliki pertanggalan paling awal sekitar 51.200 tahun yang lalu.

Hal ini, menurut keterangan resmi peneliti, "membuatnya sebagai gambar hias gua tertua di dunia sekaligus narasi seni paling awal yang pernah ditemukan dan diteliti hingga saat ini."


Metode analisis LA-U-series ini dikembangkan oleh Maxime Abert, ahli arkeologi di GCSCR, bersama dengan koleganya dari Southern Cross University (SCU) di Lismore, Profesor Renaud Joannes-Boyau, ahli arkeogeokimia dari Geoarchaeology and Archaeometry Research Group (GARG).

"Kami sebelumnya telah menggunakan metode berbasis uranium untuk mencari umur seni cadas di wilayah Sulawesi dan Kalimantan, namun teknik LA-U-series ini menghasilkan data yang lebih akurat," ujar dia.

"Karena mampu mendeteksi umur lapisan kalsium karbonat dengan sangat rinci hingga mendekati masa pembuatan seni hias tersebut. Penemuan ini akan merevolusi metode analisis pertanggalan seni cadas," lanjut Aubert.

Teknik ini memungkinkan peneliti membuat 'peta' lapisankalsium karbonat secara rinci.

"Kemampuannya membuat kami dapat menentukan sekaligus menghindari area permukaan yang mengalami proses perubahan diagenesis secara alami. Konsekwensinya, penentuan umur seni cadas menjadi lebih mendalam dan bisa dipertanggungjawabkan," Joannes-Boyau menimpali.

Lukisan lain

Tim penelitian juga melakukan penanggalan ulang pada kandungan kalsium karbonat yang melapisi lukisan gua di situs lainnya, yakni Leang Bulu' Sipong 4 di Maros-Pangkep.

Lukisan gua ini menampilkan adegan sosok yang diinterpretasikan sebagai therianthropes (setengah manusia, setengah hewan) yang sedang berburu babi rusa dan anoa.

Lukisan gua ini sebelumnya sudah pernah diteliti dengan hasil pertanggalan setidaknya 44.000 tahun yang lalu.

"Melalui metode terbaru, hasil yang didapatkan juga cukup mengesankan karena seni hias tersebut berumur 4.000 tahun lebih tua, yaitu sekitar 48.000 tahun," menurut keterangan tim peneliti.

Adam Brumm dari Griffith's Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE) yang turut serta dalam penelitian ini menyatakan seni hias gua dari Leang Karampuang dan Leang Bulu' Sipong 4 memberikan pemahaman baru terhadap signifikansi budaya bercerita dalam kaitannya dengan sejarah seni.

"Perlu diingat bahwa lukisan cadas tertua yang kami temukan di Sulawesi ini terdiri atas beberapa adegan yang bisa dikenali dengan mudah, yaitu penggambaran interaksi manusia dan hewan yang bisa ditafsirkan bahwa seniman pembuatnya berusaha untuk berkomunikasi secara naratif," urainya.

Brumm juga menyatakan ini merupakan sebuah penemuan mutakhir karena pandangan akademis selama ini menunjukkan bahwa lukisan gua figurative awal hanya terdiri atas panel individual tanpa memperlihatkan adegan yang jelas.

Kemunculan representasi gambar yang memiliki cerita baru muncul kemudian dalam seni hias Eropa.

Penemuan oleh Adhi dan tim Griffith University ini mengindikasikan bahwa lukisan gua yang bersifat naratif merupakan bagian penting dalam budaya seni manusia awal Indonesia pada masa itu.

"Pada dasarnya manusia sudah memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dalam bentuk cerita sejak lebih dari 51.200 tahun," ujar dia.

"Namun karena kata-kata tidak bisa menjadi fosil batu maka yang tertinggal hanyalah penggambaran dalam bentuk seni. Temuan di Sulawesi ini adalah bukti tertua yang bisa diketahui dari sudut pandang arkeologi," lanjut Adhi.

Selasa, 09 Juli 2024

"Kampung Pattedong Dahulu dan Sekarang" Biografi Historikal H.M. Djunaid Sappo (Chapter 17)

(Chapter 16) Setelah beberapa minggu di Kampong Baru, rombongan ibu - ibu GERWAIS (Gerakan Wanita Islam) yang dipimpin oleh Haliya selaku Ketua GERWAIS yang juga isteri dari Kahar Mudzakkar, memberi penyuluhan kepada kaum Ibu mengenai kewajiban memakai jilbab apabila hendak keluar dari rumah.
Tim Penerangan KDT Ponrang menyusul rombongan ibu ibu GERWAIS untuk menyampaikan penggunaan mata uang yang berlaku adalah mata uang Republik Islam Indonesia (DI/TII) yaitu mata uang Jepang/Nippon yang sudah disahkan dengan tanda tangan Kahar Mudzakkar dan B.S.Baranti.

Mata uang yang dikeluarkan Pemerintah Republik Indonesia tidak berlaku dan harus ditukar dengan mata uang DI/TII.

Ibuku Hj Watiha yang menyimpan sejumlah mata uang Pemerintah RI, tidak turut serta menukar uangnya dengan pertimbangan bahwa penggunaaan mata uang DI/TII tidak berlaku di kota. Beliau tidak menukarkan uangnya karena sebagai penjahit pakaian, barang barang keperluan Beliau hanya dapat dibeli di Kota Palopo dengan menggunakan mata uang Pemerintah RI.

Di Kampong Baru kami bermukim selama ± 3 bulan, kemudian pindah ke Totting. Di tempat inilah untuk pertama kalinya Saya melihat langsung Kahar Mudzakkar dengan jarak yang dekat.

Kahar Mudzakkar adalah teman sekelas Ayahku Sappo dan Tekkeng alias Ambe Hana di Sekolah Rakyat Lanipa pada tahun 1930-an.

Rencana semula DI/TII akan memukimkan kami di Padang Kamburi untuk dijauhkan dari Kampung halaman kami yaitu Pattedong.

Sejarah Kesesatan Wahabi

Sejarah perkembangan gerakan Wahabi di dunia Arab mempunyai asal muasal yang dikenal dengan gerakan Salafiah klasik yang dirintis oleh Ibnu ...